Monday, 7 September 2026

Waspadai Risikonya, AI Bukan Pengganti Tenaga Medis Profesional untuk Kesehatan Mental

 


Kota Yogyakarta - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), anak muda kini semakin mudah mengakses informasi, bercerita, hingga mencari jawaban mengenai kondisi kesehatan mental mereka melalui aplikasi berbasis AI. Kendati menawarkan kemudahan, masyarakat diimbau untuk tidak menggunakan AI sebagai dasar melakukan diagnosis mandiri (self-diagnosis).

 

Teknologi AI generatif memang dapat memberikan gambaran awal, namun jawaban yang diproses oleh sistem komputer tidak dapat menggantikan pemeriksaan komprehensif dari tenaga kesehatan mental yang berkompeten, seperti psikolog klinis atau psikiater.

 

WHO (World Health Organization) menyoroti maraknya penggunaan AI generatif sebagai sarana konsultasi emosional di kalangan remaja. WHO menekankan bahwa pengembangan dan pemanfaatan teknologi digital harus tetap mengedepankan aspek keamanan, tanggung jawab, serta keselamatan jiwa pengguna.

 

Kebiasaan mendiagnosis diri sendiri melalui AI atau mesin pencari internet berisiko menimbulkan kesalahan analisis. Hal ini dikarenakan berbagai jenis gangguan kesehatan mental kerap menunjukkan gejala yang serupa, sehingga membutuhkan evaluasi klinis mendalam untuk menentukan penyebab dan langkah penanganan yang tepat.

 

Edukasi dan Langkah Bijak Penggunaan AI:

 

1. Batas Fungsi AI: Gunakan AI sebatas referensi literasi awal, bukan sebagai alat pengambil keputusan medis atau penentu pengobatan mandiri.

2. Validasi Informasi: Selalu bandingkan data atau saran dari AI dengan sumber informasi kesehatan yang terverifikasi dan terpercaya.

3. Kenali Respon Emosional Normal: Merasa sedih, cemas, lelah, atau tertekan secara berkala merupakan hal wajar dalam dinamika kehidupan dan tidak selalu mengindikasikan gangguan jiwa.

4. Konsultasi Profesional: Apabila keluhan emosional berlangsung berkepanjangan hingga mengganggu konsentrasi belajar, produktivitas kerja, maupun hubungan sosial, segera konsultasikan kepada tenaga kesehatan mental profesional.

 

Selain itu, batasi durasi penggunaan perangkat digital (screen time) secara bijak untuk mencegah dampak negatif paparan konten internet terhadap stabilitas emosional. Di era digital saat ini, kemampuan menyaring (filtering) informasi secara kritis sama pentingnya dengan penguasaan teknologi itu sendiri. Jangan biarkan kemudahan akses informasi membuat seseorang terburu-buru memberikan label medis pada diri sendiri. (Magang)

Show comments
Hide comments
No comments:
Write comment

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

Banner Home

Latest News

Layanan Aduan

Polresta Yogyakarta 
(0274-543920)  
Polsek Gondomanan  
(0274-375376) 
Polsek Wirobrajan 
(0274-374832)
Polsek Pakualaman 
(0274-513178)
Polsek Kotagede 
(0274-374577)
Polsek Umbulharjo 
(0274-373916)
Polsek Gedongtengen 
(0274-512696)
Polsek Kraton 
(0274-373793)
Polsek Jetis 
(0274-513136)
Polsek Tegalrejo 
(0274-513877)
Polsek Ngampilan 
(0274-512185)
Polsek Gondokusuman 
(0274-513125)
Polsek Mantrijeron 
(0274-374167)
Polsek Mergangsan 
(0274-375138)
Polsek Danurejan 
(0274-589609) 
 
Back to Top