Jetis, Yogyakarta - Personel
Polsek Jetis yang dipimpin Kanit Binmas Iptu Sugeng melaksanakan pengamanan
kegiatan tradisi Saparan Kirab Budaya 1.000 Apem ke-16 yang digelar warga Kampung
Gondolayu Lor, Kelurahan Cokrodiningratan, Kemantren Jetis, Kota Yogyakarta,
Minggu (9/8/2026).
Tradisi Saparan yang telah
digelar sejak 2010 tersebut menjadi salah satu upaya masyarakat dalam
melestarikan adat dan budaya Jawa sekaligus mempererat kerukunan serta
kebersamaan warga. Dalam kegiatan tersebut, warga mengarak gunungan berisi
ribuan kue apem dan lemper melalui sejumlah ruas jalan.
Iring-iringan kirab
berangkat dari kawasan permukiman warga kemudian melintasi Jalan Jenderal
Sudirman, Jalan Pakuningratan, Jalan Asem Gede, hingga berakhir di Lapangan
Mbabrik Gondolayu Lor.
Ketua Panitia Upacara Adat
Kirab Budaya Saparan Cokrodiningratan, Dwi Muryanto, mengatakan tradisi Saparan
yang dilaksanakan pada bulan Sapar tersebut diisi dengan doa bersama,
selamatan, dan sedekah makanan sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT.
"Pada siang hari ini
kita kembali menggelar acara Upacara Adat Budaya Saparan sebagai wujud kita
melestarikan adat dan budaya Jawa yang sarat dengan makna," ujar Dwi.
Menurutnya, makanan yang
digunakan dalam tradisi Saparan juga memiliki makna tersendiri. Lemper yang
dibuat dari ketan dan dibungkus daun pisang dimaknai sebagai simbol kerukunan
dan kebersamaan agar hubungan antarwarga semakin erat.
Sementara apem menjadi simbol
permohonan maaf dan pengampunan. Apem diharapkan menjadi pengingat bagi
masyarakat untuk saling memaafkan, membersihkan hati, dan menjaga hubungan baik
dengan sesama.
Selain apem dan lemper,
panitia juga menyiapkan gunungan berisi sayuran dan buah-buahan sebagai simbol
rasa syukur atas hasil bumi sekaligus doa agar masyarakat dijauhkan dari
bencana dan memperoleh kemakmuran.
Dwi menjelaskan seluruh
makanan yang disajikan dalam kegiatan tersebut berasal dari sedekah masyarakat.
Makanan tersebut dibuat oleh warga dan kemudian dibagikan kembali kepada
masyarakat di Gondolayu, Kampung Cokrokusuman, serta wilayah sekitarnya.
Rangkaian Saparan sebelumnya
juga telah diisi dengan lantunan zikir, mujahadah, dan doa tolak bala. Menurut
Dwi, tradisi tersebut tidak hanya menjadi kegiatan budaya, tetapi juga
mengandung nilai kehidupan yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya,
seperti rasa syukur, kerukunan, saling memaafkan, dan semangat mempererat
persaudaraan.
Lurah Cokrodiningratan
Mohammad Roman Feiruz turut mendukung pelaksanaan tradisi tersebut. Ia berharap
kegiatan Saparan dapat terus diselenggarakan sebagai bagian dari upaya
masyarakat dalam nguri-uri atau melestarikan kebudayaan.
Dalam pelaksanaan kegiatan,
personel Polsek Jetis disiagakan di sejumlah titik sepanjang rute kirab.
Pengamanan dilakukan melalui pengaturan arus lalu lintas, penyeberangan warga,
serta penguraian kepadatan kendaraan agar rangkaian kirab dapat berlangsung
dengan aman dan lancar.
Perwira Pengendali Polsek
Jetis Iptu Sugeng mengatakan kehadiran kepolisian merupakan bagian dari
pelayanan kepada masyarakat untuk memberikan rasa aman dan nyaman selama
kegiatan berlangsung.
"Pengamanan ini kami
lakukan untuk memastikan seluruh rangkaian acara kirab budaya tahunan warga
Gondolayu Lor berjalan aman, tertib, dan lancar. Kami bersiaga di setiap
penggal jalan agar pengguna jalan tetap nyaman dan masyarakat dapat mengikuti
jalannya tradisi Saparan ini dengan khidmat dan aman," ujar Iptu Sugeng.
Seluruh rangkaian kegiatan
Saparan Kirab Budaya 1.000 Apem ke-16 di Kelurahan Cokrodiningratan berlangsung
aman, lancar, dan mendapat antusiasme dari masyarakat. (Humas Polsek Jetis)


No comments:
Write comment